Jumat, 16 Februari 2018

Sastra Hijau

EKOLOGI SASTRA
Oleh
Jein Palilati

Lingkungan memang menjadi bagian yang menarik untuk dimaknai kehadirannya dalam karya sastra. Istilah singkatnya ialah sastra tak pernah lepas dari lingkungan. Sastra dan lingkungan menjadi dua bagian yang tak terpisahkan. Sebagai contoh ketika Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen berjudul “Telinga”, tentunya sangat penting untuk memahami konflik peperangan yang terjadi di Indonesia bagian Timur. Dengan demikian karya sastra itu merupakan refleksi dari kehidupan sekitar yang diamati oleh pengarang.
            Lingkungan adalah poin penting yang dapat memengaruhi karya sastra. Lingkungan yang mengelilingi sastrawan jelas menjadi tumpuan imajinatifnya. Sastrawan bebas menghadirkan fenomena lingkungan dalam karyanya. Pada saat lingkungan sedang mengalami kerusakan, kebakaran hutan, lingkungan diterjang banjir, lingkungan diselimuti lahar dingin, lingkungan yang kumuh, dan lain sebagainya seringkali memicu lahirnya karya sastra yang memuat persoalan demikian. Dengan kata lain, sastra seringkali hadir mengikuti suara lingkungan. Atas dasar ini, diperlukan sebuah perspektif memahami sastra dengan melihat fenomena-fenomena yang dialami lingkungan dalam karya sastra.
Sastra membutuhkan sebuah penafsiran melalui kacamata lingkungan. Melalui kacamata lingkungan, seorang peneliti sastra dapat membaca, menyelidiki, memahami berbagai krisis lingkungan yang diangkat dalam karya sastra. Bahkan tidak menutup kemungkinan dapat membawa peneliti sastra untuk lebih menghargai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Masalah lingkungan hidup yang direpresentasikan dalam karya sastra dapat dibedah menggunakan pisau ekologi sastra.
Ekologi sastra merupakan sebuah disiplin ilmu yang lahir melalui persilangan antara ilmu ekologi dan ilmu sastra. Ekologi sastra tergolong sebagai sebuah disiplin ilmu yang masih sangat muda, karena ekologi sastra lahir paling akhir dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain pada akhir abad ke 20. Menurut Endraswara (2016: 49)  ekologi sastra merupakan sebuah disiplin ilmu sastra yang mulai digalakkan pada tahun 1990-an, meskipun akarnya mulai 1970-an. Setya Yuwana Sudikan dalam kata pengantar bukunya yang berjudul “Ekologi Sastra” menjelaskan bahwa di Indonesia ekologi sastra baru dikenal pada awal abad 21 (Sudikan, 2016: x). Sebetulnya ihwal ekologi sastra sudah ada sejak Plato menerangkan bahwa karya sastra itu semakin dekat dengan alam maka akan semakin menarik. Namun pernyataan Plato ditentang oleh Aristoteles. Menurut Aristoteles (dalam Endraswara 2016: 36), semakin jauh dari realitas alam, sastra  itu semakin bagus. Hemat penulis menarik simpulan dari beberapa pendapat tersebut bahwa ekologi sastra sejatinya sudah mulai diarencanakan kelahirannya oleh Plato, namun dikarenakan pendapatnya ditentang oleh Aristoteles, maka ihwal kelahiran ekologi sastra pun menjadi tertunda. Kemudian pada abad ke 20 ekologi sastra benar-benar diwujudkan menjadi sebuah disiplin ilmu dalam sastra oleh para peneliti sastra yang peduli pada persoalan lingkungan.
Ekologi sastra adalah studi tentang hubungan antara karya sastra dan lingkungan hidup yang diangkat dalam karya tersebut. Sejalan dengan Endraswara (2016: 17-18) bahwa ekologi sastra adalah sebuah cara pandang memahami persoalan lingkungan hidup dalam perspektif sastra. Dengan kajian ekologi sastra, akan dapat terungkap bagaimana peran sastra dalam memanusiakan lingkungan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kehadiran ekologi sastra bertujuan untuk menunjukkan kepedulian sastra terhadap lingkungan hidup, serta berperan untuk memecahkan masalah ekologi yang direfleksikan dalam karya sastra.
Teori-teori dalam kajian ekologi sastra di antaranya ekofeminsme, ekoantropologi sastra, etnoekologi sastra, dan ekokritik sastra. Ekofeminsme merupakan cabang dari ekologi sastra yang tentu saja berkaitan dengan permasalahan perempuan dan lingkungan hidup, yakni permasalahan lingkungan dan ketidak adilan gender. Sudikan (2016: 152) menjelaskan bahwa para ekofeminis sepakat bahwa fokus dari wacana lingkungan dan perempuan bukan terletak pada kedekatan antara perempuan dan lingkungan melainkan melihat budaya perempuan yang dekat dengan alam sebaga budaya yang lebih baik dari budaya laki-laki. Maksudnya ialah model lingkungan hidup yang mengadopsi nilai-nilai feminis akan lebih baik bagi sistem lingkungan hidup.
Ekoantropologi sastra adalah sebuah teori yang menggabungkan antara ekologi, budaya, dan sastra dalam fokus penelitiannya. Penelitian ekoantropologi sastra akan membuka wawasan sastra interdisipliner. Sastra dapat memuat refleksi lingkungan dan budaya di sekitar pengarangnya. Menurut Endraswara (2016: 6) manusia, sastra, dan lingkungan selalu terkait, sulit dipisahkan. Namun ketika ekologi itu dititik beratkan aspek budayanya, lebih bagus melalui antropologi sastra. Ketiganya saling mengisi satu sama lain.
Etnoekologi sastra merupakan teori sastra yang berupaya memahami lingkungan suatu etnis yang terdapat dalam sastra. Etnoekologi sastra membutuhkan pemahaman etnis tertentu yang diangkat dalam sastra dan juga membutuhkan penguasaan ekologi terhadap suatu etnis. Hal ini sejalan dengan pendapat Endraswara (2016: 94) bahwa etnoekologi sastra adalah kajian yang berupaya melukiskan lingkungan sebagaimana lingkungan tersebut dipahami oleh masyarakat suatu etnis. Sebab lingkungan alam yang secara objektif sama dapat dilihat dan disiasati berbeda oleh masyarakat etnis yang berbeda latar belakang sosial dan kebudayaannya.
Ekokritik sastra merupakan sebuah bentuk dan ekspresi penilaian sastra berwawasan lingkungan. Ekokritik sastra dapat menyalurkan tanggapan manusia terhadap lingkungannya. Endraswara (2016: 34) menjelaskan bahwa tugas penelitian ekokritik sastra adalah membongkar makna lingkungan dalam sastra. Hal ini sejalan dengan pendapat Glotfelty dan Fromm (dalam Sudikan 2016: 9) bahwa ekokritik bertujuan untuk mengaplikasikan konsep ekologi ke dalam sastra.
Kesadaran manusia terhadap lingkungan amatlah penting. Adanya kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan, maka manusia tidak akan mengeksploitasinya dengan semena-mena. Karya sastra yang menghadirkan unsur ekologi di dalamnya dapat memberi kesadaran tentang lingkungan yang dapat dibaca semua pihak dengan bahasa indah dan lebih akrab dengan pembacanya. Manusia sebagai pemakai lingkungan dan sebagai satu-satunya makhluk yang diberi kelebihan dengan akalnya harus bisa memberi kontribusi agar lingkungan yang sehat dapat dipakai selamanya. Oleh sebab itu, ekologi sastra dihadirkan sebagai sebuah bentuk perhatian para peneliti sastra dan peneliti lingkungan terhadap lingkungan hidup. Hemat penulis bahwa ekologi sastra sendiri merupakan bentuk propaganda pelestarian lingkungan melalui karya sastra. Ia hadir sebagai kritik terhadap manusia yang sering menganggap bahwa lingkungan hanyalah benda mati sehingga seringkali manusia secara sembarangan mengeksploitasi lingkungan.
Kehadiran ekologi sastra merupakan konsekuensi yang logis dari keberadaan makhluk hidup dan kondisi lingkungan yang makin hari makin membutuhkan perhatian. Ekologi sastra membantu menyadarkan manusia tentang pentingnya pelestarian lingkungan, bahwa lingkungan yang ditempati oleh manusia saat ini perlu diwariskan pada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, seorang peneliti ekologi sastra diharapkan tidak hanya mampu menerapkan teori ini dalam sebuah penelitian sastra, melainkan dapat pula mengaplikasikannya bagi keselamatan lingkungan sekitarnya. Seorang peneliti sastra perlu membangun kesadaran terhadap kondisi apapun yang terjadi pada lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2016. Metodologi Penelitian Ekologi Sastra: Konsep, Langkah, dan Penerapan. Yogyakarta: CAPS.
Endraswara, Suwardi. 2016. Sastra Ekologis. Yogyakarta: CAPS.

Sudikan, Setya Yuwana. 2016. Ekologi Sastra. Lamongan: Pustaka Ilalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar