Jumat, 16 Februari 2018

Ulasan Buku #2

Tuhan, Izinan Aku Menjadi Pelacur


Judul        : Tuhan, Izinan Aku Menjadi Pelacur
Penulis     : Muhidin M. Dahlan
Penerbit   : ScriPtaMament
Pengulas  : Jein A. Palilati (@KekinSmileAgain)


Setahun yang lalu saya menamatkan satu dari sekian bacaan “kelas berat” yang menjadi salah satu bacaan favorit saya. Novel berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” ini memang mengundang banyak kontroversi. Sebagian pembaca menilai bahwa novel ini tidak pantas dibaca, bacaan sampah, menyesatkan akidah, hanya berisi fitnah, dan berbagai kritikan lainnya. Dari judulnya, novel ini memang menggemparkan masyarakat yang mengaku menjunjung tinggi nila-nilai moral, susila, dan religius.
              Tokoh utamanya bernama Nidah Kirani. Seorang perempuan religius, amat menjaga kesuciannya. Ia seorang aktivis dakwah, membela ajaran agama Islam yang diyakininya. Kiran menghabiskan setiap malamnya dengan membaca ayat-ayat Tuhan dan tak pernah lupa melaksanakan shalat, bahkan tiap malam Kiran tak pernah lalai berdiri melaksanakan tahajud. Namun segudang masalah yang menimpanya mendadak mengubah kehidupan Kiran. Ia dengan sikap kritis dan kecerdasannya terang-terangan menentang Tuhan yang sebelumnya begitu ia puja. Kiran mendadak memutuskan melacurkan hidupnya dan bahkan salah seorang dosennya sendiri menjadi germonya. Ia dengan segala kekecewaan dan amarah pada Tuhannya berusaha melawan arus ajaran yang diyakini dan pernah diperjuangkannya.
              Saya pribadi menilai Kiran sebagai kolaborasi sempurna dari kecantikan, kecerdasan, kekritisan, kemandirian, keberanian, kepercaya dirian yang tinggi, hingga kegagalan mengeja nama Tuhannya. Kiran adalah wujud seorang perempuan yang keliru pada Tuhannya. Saya memaknai Kiran sebagai representasi manusia pada umumnya (manusia sebagai makhluk paling munafik), yang begitu gigih mempertahankan keyakinan dan tak putus-putusnya menyembah Tuhan. Namun, pernahkan terlintas dalam benak kita sebagai manusia, siapa sebenarnya yang sedang kita sembah? Tuhan yang bagaimana yang terus menerus kita puja? Jangan-jangan sosok Kiran dalam novel tersebut adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan kita adalah Kiran yang tidak sadar bahwa selama ini menyembah Tuhan hanya dalam wujud kata-kata “Alif-Lam-Lam-Ha (الله)”. Jangan-jangan kita hanya membaca tulisan kitab suci tanpa pernah meyakini kebenaran isinya? Jangan-jangan .. dan masih banyak jangan-jangan.
              Pepatah lama mengatakan “semakin tinggi pohon, semakin banyak angin yang menerpa”. Kiran sendiri adalah pohon yang tumbang oleh angin. Ia tak kuat menahan kencangnya tiupan angin. Akar-akarnya tercerabut ketika keyakinannya diuji. Kiran memilih tumbang, memilih tidak lulus dalam ujian. Lantas dengan segala egonya ia menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan hidupnya menjadi demikian, menyalahkan Tuhan yang ia sebut sedang bermain-main dengan hidupnya. Maka ia pun menentang dan tak ingin tunduk.
              Jika dianalogikan lewat penalaran saya yang sederhana ini, Kiran diibaratkan seorang anak yang merengek minta perhatian pada orang tuanya (Tuhan). Ia mendapat tekanan dari banyak pihak, tak kuat menghadang terpaan angin. Lalu melakukan hal-hal yang dilarang orang tuanya semata-mata ingin menarik perhatian orang tua agar ia ditolong, agar masalahnya selesai. Namun ia merasa tak kunjung mendapat perhatian. Keimanannya ternyata begitu rapuh lantas memilih mengkambing hitamkan Tuhan sebagai penyebab segalanya. Ia menghabiskan waktu membaca firman Tuhannya tapi gagal memahami salah satu firman itu, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan (Q.S Asy-Sarh: 5-6).
              Saya tidak sedang menghakimi siapapun, saya pula tidak sedang membela siapapun. Hanya saja ketika membaca sosok Kiran, saya pribadi menyimpulkan bahwa ia adalah wujud manusia-manusia yang tidak sabar menghadapi persoalan kehidupan dan memilih menyudutkan pihak lain atas masalah yang menimpanya. Kiran menunjukkan ketidak matangan keimanan yang dimilikinya. Ia mencoba menafsirkan, bahkan melawan kontrol Tuhan atas dirinya dengan logikanya sendiri. Bukankah manusia memang suka begitu?
              Sejujurnya saya kurang setuju pada pembaca yang menghina karya ini. Justru saya menganjurkan novel ini untuk dibaca banyak orang. Mengapa? Sebab sejatinya tidak ada buku yang salah. Kesalahan terdapat pada pembaca yang tidak hati-hati menafsirkan sesuatu. Perlu diingat bahwa tidak segala yang tertulis dalam buku harus kita benarkan. Tidak semua yang tertulis dalam buku harus kita lakukan. Tentu ada hal-hal yang patut dipertimbangkan. Betapa dangkalnya iman seseorang jika ternyata berhasil dimanipulasi oleh isi buku ini. Betapa tumpulnya logika seseorang jika langsung saja menghakimi karya ini sebagai sampah. Padahal, jika menelisik lebih jauh dari berbagai sudut pandang, karya ini justru berusaha memperlihatkan salah satu kekuasaan Tuhan yang sanggup membolak balikan hati manusia. Banyak misteri yang menarik dipecahkan dalam novel ini.
              Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur bukanlah novel yang menyesatkan. Tidak sama sekali. Pembaca boleh saja terguncang dengan isinya, namun jangan sampai tergeser, apalagi sampai hancur akidahnya. Pembaca hanya dituntut untuk lebih teliti memaknai novel ini. Justru lewat novel ini, Muhidin M. Dahlan entah secara sadar atau tidak, berhasil menunjukkan bukti kekuasaan Tuhan, bahwa Dia selamanya adalah Zat yang mampu membolak-balikan hati seorang insan, termasuk Kiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar