Tuhan, Izinan Aku Menjadi Pelacur
Judul : Tuhan, Izinan Aku Menjadi Pelacur
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : ScriPtaMament
Pengulas :
Jein A. Palilati (@KekinSmileAgain)

Setahun yang
lalu saya menamatkan satu dari sekian bacaan “kelas berat” yang menjadi salah
satu bacaan favorit saya. Novel berjudul “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”
ini memang mengundang banyak kontroversi. Sebagian pembaca menilai bahwa novel
ini tidak pantas dibaca, bacaan sampah, menyesatkan akidah, hanya berisi
fitnah, dan berbagai kritikan lainnya. Dari judulnya, novel ini memang
menggemparkan masyarakat yang mengaku menjunjung tinggi nila-nilai moral,
susila, dan religius.
Tokoh utamanya bernama Nidah
Kirani. Seorang perempuan religius, amat menjaga kesuciannya. Ia seorang
aktivis dakwah, membela ajaran agama Islam yang diyakininya. Kiran menghabiskan
setiap malamnya dengan membaca ayat-ayat Tuhan dan tak pernah lupa melaksanakan
shalat, bahkan tiap malam Kiran tak
pernah lalai berdiri melaksanakan tahajud. Namun segudang masalah yang
menimpanya mendadak mengubah kehidupan Kiran. Ia dengan sikap kritis dan
kecerdasannya terang-terangan menentang Tuhan yang sebelumnya begitu ia puja.
Kiran mendadak memutuskan melacurkan hidupnya dan bahkan salah seorang dosennya
sendiri menjadi germonya. Ia dengan segala kekecewaan dan amarah pada Tuhannya
berusaha melawan arus ajaran yang diyakini dan pernah diperjuangkannya.
Saya pribadi menilai Kiran sebagai
kolaborasi sempurna dari kecantikan, kecerdasan, kekritisan, kemandirian,
keberanian, kepercaya dirian yang tinggi, hingga kegagalan mengeja nama
Tuhannya. Kiran adalah wujud seorang perempuan yang keliru pada Tuhannya. Saya
memaknai Kiran sebagai representasi manusia pada umumnya (manusia sebagai
makhluk paling munafik), yang begitu gigih mempertahankan keyakinan dan tak
putus-putusnya menyembah Tuhan. Namun, pernahkan terlintas dalam benak kita
sebagai manusia, siapa sebenarnya yang sedang kita sembah? Tuhan yang bagaimana
yang terus menerus kita puja? Jangan-jangan sosok Kiran dalam novel tersebut
adalah diri kita sendiri? Jangan-jangan kita adalah Kiran yang tidak sadar
bahwa selama ini menyembah Tuhan hanya dalam wujud kata-kata “Alif-Lam-Lam-Ha (الله)”. Jangan-jangan kita hanya membaca tulisan kitab suci tanpa
pernah meyakini kebenaran isinya? Jangan-jangan .. dan masih banyak jangan-jangan.
Pepatah lama mengatakan “semakin
tinggi pohon, semakin banyak angin yang menerpa”. Kiran sendiri adalah pohon
yang tumbang oleh angin. Ia tak kuat menahan kencangnya tiupan angin.
Akar-akarnya tercerabut ketika keyakinannya diuji. Kiran memilih tumbang,
memilih tidak lulus dalam ujian. Lantas dengan segala egonya ia menyalahkan
Tuhan yang telah menciptakan hidupnya menjadi demikian, menyalahkan Tuhan yang
ia sebut sedang bermain-main dengan hidupnya. Maka ia pun menentang dan tak
ingin tunduk.
Jika dianalogikan lewat penalaran
saya yang sederhana ini, Kiran diibaratkan seorang anak yang merengek minta
perhatian pada orang tuanya (Tuhan). Ia mendapat tekanan dari banyak pihak, tak
kuat menghadang terpaan angin. Lalu melakukan hal-hal yang dilarang orang
tuanya semata-mata ingin menarik perhatian orang tua agar ia ditolong, agar
masalahnya selesai. Namun ia merasa tak kunjung mendapat perhatian. Keimanannya
ternyata begitu rapuh lantas memilih mengkambing hitamkan Tuhan sebagai
penyebab segalanya. Ia menghabiskan waktu membaca firman Tuhannya tapi gagal
memahami salah satu firman itu, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada
kemudahan (Q.S Asy-Sarh: 5-6).
Saya tidak sedang menghakimi
siapapun, saya pula tidak sedang membela siapapun. Hanya saja ketika membaca
sosok Kiran, saya pribadi menyimpulkan bahwa ia adalah wujud manusia-manusia
yang tidak sabar menghadapi persoalan kehidupan dan memilih menyudutkan pihak
lain atas masalah yang menimpanya. Kiran menunjukkan ketidak matangan keimanan
yang dimilikinya. Ia mencoba menafsirkan, bahkan melawan kontrol Tuhan atas
dirinya dengan logikanya sendiri. Bukankah manusia memang suka begitu?
Sejujurnya saya kurang setuju pada
pembaca yang menghina karya ini. Justru saya menganjurkan novel ini untuk
dibaca banyak orang. Mengapa? Sebab sejatinya tidak ada buku yang salah.
Kesalahan terdapat pada pembaca yang tidak hati-hati menafsirkan sesuatu. Perlu
diingat bahwa tidak segala yang tertulis dalam buku harus kita benarkan. Tidak
semua yang tertulis dalam buku harus kita lakukan. Tentu ada hal-hal yang patut
dipertimbangkan. Betapa dangkalnya iman seseorang jika ternyata berhasil
dimanipulasi oleh isi buku ini. Betapa tumpulnya logika seseorang jika langsung
saja menghakimi karya ini sebagai sampah. Padahal, jika menelisik lebih jauh
dari berbagai sudut pandang, karya ini justru berusaha memperlihatkan salah
satu kekuasaan Tuhan yang sanggup membolak balikan hati manusia. Banyak misteri
yang menarik dipecahkan dalam novel ini.
Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur
bukanlah novel yang menyesatkan. Tidak sama sekali. Pembaca boleh saja
terguncang dengan isinya, namun jangan sampai tergeser, apalagi sampai hancur
akidahnya. Pembaca hanya dituntut untuk lebih teliti memaknai novel ini. Justru
lewat novel ini, Muhidin M. Dahlan entah secara sadar atau tidak, berhasil
menunjukkan bukti kekuasaan Tuhan, bahwa Dia selamanya adalah Zat yang mampu
membolak-balikan hati seorang insan, termasuk Kiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar